LIPUTAN MEDIA INDONESIA.CO.ID | 7 November 2026
JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 6–12 November 2026. Peringatan tersebut perlu diperhatikan karena hujan dapat disertai petir dan angin kencang.
Dalam prakiraan cuaca sepekan yang diterbitkan pada 6 November 2026, BMKG menjelaskan bahwa kondisi atmosfer Indonesia masih dipengaruhi sejumlah fenomena iklim dan gelombang atmosfer. Situasi tersebut menyebabkan potensi hujan berbeda-beda di setiap wilayah.
Sumatera Selatan termasuk wilayah yang perlu memperhatikan peningkatan potensi hujan sedang pada periode 6–8 November. Potensi hujan juga diperkirakan masih perlu diwaspadai pada periode 9–12 November.
BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami hujan ringan, tetapi sejumlah daerah dapat mengalami hujan dengan intensitas lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer dan pengaruh cuaca lokal.
Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat masih terpantau dalam pemantauan BMKG. Selain itu, Indian Ocean Dipole atau IOD positif juga memengaruhi kondisi atmosfer di sekitar wilayah Indonesia.
Kedua fenomena tersebut secara umum dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah. Namun, bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kondisi kering karena dinamika atmosfer regional masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
BMKG mencatat bahwa pada awal November telah terjadi hujan sangat lebat hingga ekstrem di sejumlah daerah. Curah hujan harian tertinggi pada periode 1–4 November tercatat di Jawa Timur mencapai 358 milimeter per hari.
Selain Jawa Timur, curah hujan tinggi juga tercatat di Bali, Aceh, dan Kalimantan Barat. Data tersebut memperlihatkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi meskipun sejumlah wilayah lain mengalami kondisi kering.
Aktivitas gelombang atmosfer menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam prakiraan cuaca. Gelombang Kelvin dan Rossby serta aktivitas Madden-Julian Oscillation dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
Pertemuan massa udara dan pola perlambatan angin juga dapat meningkatkan potensi pembentukan awan. Apabila kondisi tersebut didukung kelembapan udara yang tinggi, hujan dapat terjadi dengan intensitas lebih besar.
Pada periode 6–8 November, BMKG memperkirakan peningkatan hujan sedang di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Selatan. Masyarakat perlu memperhatikan kondisi cuaca setempat karena intensitas hujan tidak selalu sama antara satu kabupaten dan kabupaten lainnya.
Pada periode 9–12 November, potensi hujan sedang juga masih perlu diwaspadai di Sumatera Selatan. Selain itu, sejumlah daerah di Indonesia mendapat peringatan potensi hujan lebat hingga sangat lebat sesuai tingkat peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama perjalanan darat, kegiatan pertanian, pekerjaan di luar ruangan, dan aktivitas transportasi. Hujan lebat yang berlangsung lama juga dapat meningkatkan risiko genangan dan longsor di daerah rawan.
Masyarakat yang tinggal di dekat sungai, lereng, dan kawasan dengan sistem drainase terbatas perlu memperhatikan perubahan kondisi lingkungan. Kenaikan debit air, retakan tanah, serta saluran air yang meluap dapat menjadi tanda yang perlu segera dilaporkan.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan menunjukkan ratusan titik pengamatan masuk kategori sangat panjang hingga ekstrem panjang.
Kondisi kering tersebut berhubungan dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Titik panas masih terpantau di beberapa provinsi, sehingga masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar.
Perubahan cuaca yang berlangsung bersamaan antara wilayah basah dan wilayah kering menunjukkan pentingnya informasi cuaca berdasarkan lokasi. Masyarakat tidak sebaiknya menyimpulkan kondisi satu daerah hanya dari prakiraan cuaca nasional secara umum.
Petani dapat memanfaatkan informasi prakiraan cuaca untuk mengatur jadwal kegiatan pertanian, terutama pengolahan lahan, pemupukan, dan panen. Informasi hujan juga dapat membantu mengurangi risiko kerugian akibat aktivitas pertanian yang dilakukan saat cuaca tidak mendukung.
Pengendara kendaraan bermotor perlu mengurangi kecepatan ketika hujan deras dan menjaga jarak aman. Jalan licin, genangan, serta jarak pandang yang terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Masyarakat diimbau memantau pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta kanal informasi pemerintah daerah. Kesiapsiagaan sejak awal dapat membantu mengurangi dampak cuaca ekstrem terhadap keselamatan dan aktivitas masyarakat.
LIPUTAN MEDIA INDONESIA.CO.ID
Berita nasional, daerah, ekonomi, hukum, dan peristiwa aktual.

Tinggalkan Komentar
Tinggalkan Komentar & Diskusi
Sampaikan tanggapan, opini, atau diskusi Anda secara santun dan bijak.
Komentar Terkirim